Total Tayangan Laman

Arsip Blog

Powered by Blogger.

Hikmah percaya adanya Takdir Allah swt

Hikmah percaya adanya Takdir Allah swt
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Seorang yang beriman kepada takdir akan meyakini bahwa tidak akan ia tertimpa suatu musibah apapun kecuali sudah tertuliskan di dalam Al Lauh Al Mahfuzh, keyakinan ini mendorong ia untuk senantiasa bertawakkal hanya kepada Allah atas segala perkaranya, apakah itu urusan dunia atau akhirat, apakah perkara kecil atau besar. Sehingga ia selalu berharap dari Allah Ta’ala hal yang terbaik untuknya.
Ayat di bawah ini adalah dalil atas apa yang disebutkan di atas, Allah Ta’ala berfirman

{ قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ} [التوبة: 51]
Artinya: “Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." QS. At Taubah: 51.

Hadits di bawah ini merupakan bukti bahwa beriman kepada takdir sangat erat kaitannya dengan tawakkal.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ».
Artinya: “Abu HUrairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari seorangmukimin yang lemah dan pada seluruhnya ada kebaikan, bersungguh-sungguhlah atas apa yang menimpamu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah engkau lemah, jika kamu tertimpa sesuatu maka janganlah kamu katakan: “Jikalau aku mengerjakan ini niscaya akan seperti ini dan itu, akan tetapi katakanlah (ini adalah) takdir Allah dan Dia berbuat apa saja sesuai denga  kehendak_nya, karena sesungguhnya ucapan “jikalau” akan membuka perbuatan syetan.” HR. Muslim.

Perhatikan perintah di dalam hadits di atas untuk minta tolong yang hal itu adalah salah satu bentuk bersandar diri dan tawakkal kepada Allah Ta’ala dikaitkan dengan bersandar kepada takdir jika terjadi sesuatu.
Begitu pula hadits:

عَنِ ابْنِ الدَّيْلَمِىِّ قَالَ وَقَعَ فِى نَفْسِى شَىْءٌ مِنَ الْقَدَرِ فَأَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ «... وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ ... »
Artinya: “Ibnu Ad Dailami berkata: “Terdapat di dalam diriku sesuatu yang berkaitan dengan takdir, lalu akupun mendatangi Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, maka akupun bertanya kepada-NYa, lalu beliau berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…dan kamu mengetahui bahwa apa saja yang menimpamu (sebagaimana yang sudah ditakdirkan), maka tidak akan pernah meleset darimu dan apa saja yang tidak terkena padamu (karena belum ditakdirkan), maka tidak akan menimpamu.”HR. Abu Daud dan Ahmad.

Ali Al Qari dan Al Mubarakfuri rahimahumallah berkata:
وَهُوَ مَضْمُونُ قَوْلِهِ تَعَالَى: {قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا} [التوبة: 51] ، وَفِيهِ حَثٌّ عَلَى التَّوَكُّلِ وَالرِّضَا، وَنَفْيِ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ، وَمُلَازَمَةِ الْقَنَاعَةِ، وَالصَّبْرِ عَلَى الْمَصَائِبِ
“Dan hadits di atas adalah konsekwensi dari Firman Allah Ta’ala: “Katakanlah, tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuk kami”. QS. At Taubah: 51. 

Di dalamnya terdapat perintah untuk bertawakkal dan ridha serta peniadaan daya dan kekuatan serta selalu bersikap puas serta sabar atas musibah-musibah (yang didapatkannya).” Lihat kitab Mirqat Al Mafatih syarah Misykat Al Mashabih, 1/189 dan Tuhfat Al Ahwadzi, 6/297.
Syaikh Al Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata:

لا بد للإنسان من الإيمان بالقدر لأنه أحد أركان الإيمان الستة، ولأنه من تمام توحيد الربوبية، ولأن به تحقيق التوكل على الله تعالى وتفويض الأمر إليه مع القيام بالأسباب الصحيحة النافعة
“Harus bagi seorang manusia untuk beriman kepada takdir, karena ia adalah salah satu rukun iman yang enam, dan karena ia dari kesempurnaan tauhid rububiyyah, dan karena dengannya penerapan tawakkal dan penyerahan perkara kepada Allah yang disertai dengan mengerjakan sebab-sebab yang benar dan bermanfaat.”Lihat Kitab Majmu’ Fatawa Wa Rasail Ibnu Ustaimin, 4/213.

Berkata syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jarbu’:
فالإيمان بالقدر باعث على التوكل، وتعلق القلب بالله، والتوكل على الله، وكمال تعلق القلب به هو أساس التوحيد، والتوحيد بإخلاص العبادة لله، وصدق الالتجاء إليه هو أساس العبودية، والركن الأهم في طريق الولاية.
“Beriman kepada takdir adalah penumbuh sifat tawakkal, dan bergantungnya hati kepada Allah, dan tawakkal kepada Allah serta sempurnanya bergantung hati adalah merupakan pondasi dasar tauhid. Dan tauhid terjadi dengan cara mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah, benar-benar kembali kepada-Nya adalah pondasi dasar penghambaan diri, dan rukun yang paling penting di jalan menjadi wali.”Lihat kitab Atsar Al Iman fi Tahshin Al Ummah Al Islamiyyah Dhidd Al Afkar Al Haddamah, 1/244.
Jika sudah dipahami di atas, maka ternyata di dalam sikap tawakkal terdapat keutamaan dan kebaikan yang sangat luar biasa.
Mari perhatikan perkataan indah dari Ibnu Rajab berikut:
ومن لطائف أسرارِ اقترانِ الفرج بالكربِ واليُسرِ بالعسرِ: أن الكربَ إذا اشتدَّ وعَظُمَ وتناهى، حصلَ للعبدِ الإياسُ من كَشْفِهِ من جهةِ المخلوقين. وتعلَّقَ قلبُه بالله وحدَهُ، وهذا هو حقيقةُ التوكُلِ على اللَّه، وهو من أعظم الأسبابِ التي تُطلَبُ بها الحوائجُ، فإنَّ اللَّهَ يكفي من توكَّل عليه"، كما قال: (وَمَن يَتَوَكلْ عَلَى اللهِ فَهوَ حَسْبُهُ) .
“Dan termasuk dari rahasia-rahasia menarik tentang tersandingnya jalan keluar dengan kesempitan dan kemudahan dengan kesulitan adalah bahwa kesempitan jika bertambah kuat, bertambah besar dan bertambah sulit, maka akan terjadi pada diri seorang hamba keputus asaan untuk menghilangkannya dari sisi para makhluk, dan (akhirnya) bergantunglah hatinya kepada Allah semata, inilah dia tawakkal kepada Allah yang hakiki, dan ia adalah termasuk dari sebab-sebab yang paling besar dituntut darinya hajat dan keperluan, karena sesungguhnya Allah akan mencukupkan siapa yang bertawakkal kepadanya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dialah pencukupnya”. Lihat kitab Tafsir Ibnu Rajab Al Hambali, 2/29

FATWA ULAMA SENIOR ARAB SAUDI BOLEHKAN MAULID

FATWA ULAMA SENIOR ARAB SAUDI BOLEHKAN MAULID

Pada 10 Rabi’ul Awwal 1435 h situs almnatiq.net mempublikasikan pendapat anggota dewan senior Ulama Kerajaan Saudi Arabia tentang Peringatan Hari Kelahiran dan Kemenangan.

Ulama Senior Kerajaan Saudi Arabia yang bernama Syaikh Dr. Qais al-Mubarak mengeluarkan fatwa bahwa
tidak ada masalah bagi umat Islam untuk mengadakan perkumpulan memperingati suatu peristiwa yang dipandang boleh di dalam agama dengan syarat bahwa kegiatan itu tidak diyakini sebagai bagian dari syiar Islam.

Al-Mubarak mengatakan bahwa selama ini masyarakat selalu mengadakan acara terkait dengan peristiwa kesuksesan seseorang atau keberhasilan salah seorang anak meraih gelar sarjana (menyelesaikan pendidikan),atau berkaitan dengan ulang tahun atau peristiwa- peristiwa lainnya.

Patokan yang digunakan bahwa perkumpulan seperti itu dibolehkan adalah tidak meyakini bahwa keterkaitan itu adalah bagian dari sunnah yang dianjurkan atau termasuk ke dalam syiar Islam.

Demikian pula halnya, tidak ada halangan untuk mengkhususkan satu hari di dalam satu tahun atau satu
bulan atau keseharian untuk mempelajari fikih, hadits,
sejarah atau keagungan Nabi Muhammad atau ilmu-ilmu
agama lainnya.

Beliau juga menambahkan sebagaimana dilansir oleh
Majalah al-Hayat bahwa tidak ada halangan pula memanfaatkan momen-momen keagamaan, seperti Hijrah
 
Nabi, Isra Mi’raj atau yang lainnya, untuk memberikan peringatan, nasihat dan bimbingan kepada umat.

Semua peringatan terhadap momen keagamaan ini, menurutnya,merupakan perbuatan yang baik dan merupakan kebiasaan syariat, dan tidak bisa dianggap sebagai perbuatan bid’ah yang diharamkan, kecuali bila
seseorang yang melakukannya meyakini sebagai syiar Islam yang dianggap sunnah, atau beranggapan bahwa siapa yang meninggalkannya, dianggap meninggalkan sunnah. intaha

Nah..bagaimana wahabi jika ulama senior arab saudi saja tdk melarang ??
Bukankah ada byk fakta dimedinah sering adakan maulid ??
.
Ada bisa temukan di media macam Youtube.com bukti maulid di arab saudi yang katanya tdk maulid atau melarang maulid.

Berikut scaner pernyataan Ulama senior arab saudi yg jauh lebih sehat otaknya dari para pengekor wahabi indonesia.

Ketangguhan Hidup

KETANGGUHAN HIDUP

Ternyata, ketangguhan hanya dapat dilihat tatkala seseorang mengarungi medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya. Kita akan salut kepada seorang ibu yang mati-matian mendidik anak-anaknya di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit. Kita akan salut kepada pasukan yang berani mati di medan perang, walau musuh yang dihadapi jumlahnya jauh lebih banyak. Kita pun akan salut kepada satu bangsa yang walau tidak punya sumber daya alam, tapi mereka bisa bangkit dan maju. Intinya, kita akan salut kepada mereka yang memiliki ketangguhan dalam hidup.

Pertanyaannya, apakah kita termasuk manusia yang tangguh atau rapuh? Masalahnya, di balik orang yang tangguh, ada banyak orang yang rapuh. Dihadapkan dengan sedikit kesusahan mereka goyah dan mengeluh. Dihadapkan dengan masalah yang menghadang dia putus asa. Dihadapkan dengan ketidakenakan dia tersinggung, lalu marah. Bahkan, dengan masalah sepele saja mereka akan menyerah. Lihatlah, hanya karena tidak bisa mengerjakan PR, ia membanting pintu dan menyobek kertas. Hanya karena tidak bisa memasang peniti, susah masuk, ia marah-marah dan membanting peniti tersebut. Hanya karena putus cinta, ia bunuh diri. Atau hanya karena tidak disapa tetangga, ia sakit hati.

Karena itu, mulai sekarang kita harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri, apakah diri kita bermental tangguh atau sebaliknya bermental rapuh? Kalau kita sudah lebih mengenal diri, kita harus memiliki program untuk membangun ketangguhan diri.

Beberapa hari lalu saya menonton acara televisi tentang kontes ketahanan fisik, untuk memilih manusia 'terkuat' di dunia dari segi fisik. Mereka harus berlari puluhan kilometer, menaiki bukit, berenang, mengayuh sepeda, mengarungi kubangan lumpur, dan lainnya. Dalam perlombaan tersebut, terlihat ada orang yang semangatnya kuat, tapi fisiknya lemah. Ada yang semangatnya lemah, tapi fisiknya kuat. Ada yang fisik dan semangatnya lemah. Tapi ada pula yang semangat dan fisiknya sama-sama kuat. Yang terakhir inilah yang kemudian keluar sebagai pemenang. Ternyata, ketangguhan hanya dapat dilihat tatkala seseorang mengarungi medan ujian. Semakin berat medan ujian, semakin terlihat pula ketangguhannya.

Analogi dengan kenyataan tersebut, hidup hakikatnya adalah medan kesulitan sekaligus medan ujian. Separuh dari hidup kita adalah medan ujian yang berat. Yang akan keluar sebagai pemenang hanyalah mereka yang tangguh, yang mampu melewati setiap kesulitan dengan baik. Dalam Alquran, Allah SWT berjanji akan membahagiakan orang-orang yang sabar dan tangguh dalam mengarungi kesulitan hidup. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada-Nya kami akan kembali' (QS Al-Baqarah [2]: 155-156).

Ketangguhan yang hakiki bagi seorang Muslim tidak dilihat dari fisiknya (walau ini penting), tapi dilihat dari seberapa kuat keimanannya. Manusia paling tangguh adalah manusia yang paling kuat imannya. Boleh jadi tubuh kita lemah, rapuh, bahkan lumpuh, tapi kalau ia memiliki ketangguhan iman, maka kelemahan fisik akan tertutupi.

Orang yang memiliki kekuatan iman, salah satu ciri khasnya adalah tangguh menghadapi cobaan hidup. Dalam praktiknya, ia memiliki lima rumus. Pertama, ia yakin bahwa kesulitan adalah episode yang harus dijalani. Ia akan menghadapinya sepenuh hati, tidak ada kamus mundur atau menghindar. Kedua, ia yakin bahwa setiap kesulitan sudah diukur oleh Allah, sehingga takarannya pasti sesuai dengan kapasitas manusia. Ketiga, ia yakin bahwa ada banyak hikmah di balik kesulitan. Keempat, ia yakin bahwa setiap ujian pasti ada ujungnya. Dan terakhir, ia yakin bahwa setiap kesulitan yang disikapi dengan cara terbaik akan mengangkat derajatnya di hadapan Allah (juga manusia). Pasti ada sesuatu yang besar di balik kesulitan yang menghadang. Semakin berat ujian, semakin luar biasa pula ganjaran yang akan diterima.

Karena itu, sesulit apapun keadaan bangsa kita, sesulit apapun keadaan keluarga dan diri kita, pilihan terbaik hanya satu: 'Kita harus menjadi manusia tangguh.' Jangan putus asa atau menyerah. Bergeraklah terus karena segala sesuatu ada ujungnya. Tidak mungkin kesulitan akan terus menerus mendera kita. Bukankah di balik setiap kesulitan ada dua kemudahan? Wallahu a'lam bish-shawab.

Sejarah Ringkas Sunan Giri

Sejarah Ringkas Sunan Giri


Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya--seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).

Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.

Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah "giri". Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.

Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.

Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.

Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.

Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n

Pribadi yang Tenang

Pribadi yang Tenang

 
Sikap resah, gelisah, panik merupakan tanda ketidak-tenangan seseorang dalam bersikap dan berperilaku. Sikap tersebut dapat mendatangkan situasi di sekitarnya tidak bersahabat. Bahkan akan memupuk sikap ceroboh, emosional, dan membuat orang lain terdzalimi. Padahal prestasi, kesuksesan dapat diraih oleh seseorang yang hatinya senantiasa berada dalam keadaan tenang.

Seseorang yang memiliki pribadi yang tenang dapat dilihat dari kemampuannya berpikirnya yang jernih, kemampuan menghimpun informasi secara akurat, dan kemampuan dalam bertindak yang selalu tepat, efektif dan efisien. Semua itu akan diperoleh dari keyakinan yang tinggi pada Alloh SWT. Sementara keyakinan dapat diperoleh dari ilmu pengetahuan dan pemahaman. Hal yang ironis jika seseorang bisa berprestasi tanpa ilmu atau pengalaman atau tanpa pendekatan kepada Alloh. Karena dengan ilmu, seseorang dapat merangkum berbagai informasi, dan melalui pengalaman seseorang akan meraih sejuta wawasan. Begitu pula dengan pendekatan melalui dzikir dan doa akan menyebabkan seseorang bertambah keyakinan pada Sang Khalik.

Keyakinan dapat muncul dari latihan yang insentif. Orang yang terbiasa hidup sederhana, misalnya. Yang sejak kecil dididik untuk hidup sederhana, maka setelah dewasa, dikala jabatan telah digenggamnya tak membuatnya silau, karena baju ke-zuhud-an senantiasa melekat dalam dirinya. Itu salah satu bukti akan terinternalisasinya ilmu dan kedekatan diri pada Alloh SWT sehingga menjadikan-Nya sebagai yang utama.

Saudaraku, marilah kita pupuk diri kita menjadi pribadi yang tenang, namun tetap terkendali. Karena dengan sikap tenanglah akan melahirkan pribadi yang bijak dan berwibawa. Maka disaat kita dilanda gelisah, cukuplah Alloh menjadi tempat pemberi ketenangan. Semoga Alloh SWT yang menggenggam setiap hati hamba-hamba-Nya senantiasa melimpahkan ketenangan kepada kita. Aamiin.

Islam Damai dan Perang

Islam adalah agama damai. Tetapi ajaran Islam damai seringkali tercoreng oleh ulah sebagian umat Islam yang bertindak ekstrem dengan mengatasnamakan Islam. Di tempat lain kalangan non-Muslim semakin memantapkan stigma negatif mereka terhadap Islam bahwa Islam adalah agama ekstremis dan mengajarkan peperangan. Dalam sejarah Islam memang terdapat peperangan yang dilakukan kepada musuh Islam, tetapi

Hukuman Penghujatan Terhadap Islam

Penghujatan atau penghinaan terhadap Islam saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh musuh Islam. Terlebih terhadap sosok Rasulullah saw yang sedemikian rupa telah digambarkan dengan sangat tidak sopan dan tuduhan-tuduhan palsu. Menanggapi hal-hal tersebut bagaimana Islam menanggapinya?


Pertanyaan selanjutnya yang sangat sering ditanyakan adalah hukuman
penghujatan dalam Islam. Ini